Pagi ini suluh mentari menghantar pulang
Jejak sepatuku masih ada debu meminggir
Diasak embun desa termanggu di halaman
Seratus langkahku menghampiri anak tangga usang
Rumah papan atap rumbia menyentak perantau
Sepi di beranda
Kuatur langkahku sebak
Syahdu dan gementar
Ada tangisan di wajah
Menyentuh kenangan di gerbang pintu
Ayah selalu berkisah
Kuakan pintu itu ada nasihat
Masih basah keringat
Memantul warna senja kepulanganmu
Tanpa sungutan
Cepat benar masa berlalu
Waktu ayah menyambutku pulang
Usiamu diterjah putih kelabu
Ada perit getir di wajahmu
Kedut yang membungkus wajahmu
Mengasak kudrat ke telapak kesat tanganmu
Sering dahulu menghantar kami ke sekolah
Menghantar seribu luka di tumitmu
Sepohon pokok rendang tua
Ayah duduk memerhatikanku yang sudah dewasa
Membawaku ke sisi dan bercerita lagi kepadaku
Tentang kerinduan yang pernah ada dalam rumah
Tentang kasihan ibu kepada kami
Kata ayah "ibumu selalu sabar
Memahat senyuman pada dedaun padi
Yang menjadi alas kehidupan"
Ayah,
Seperti ibu yang selalu menangis gementar
Memanjat harapan ke hadrat-Nya
Anak-anakmu juga tidak dapat membezakan
Di antara turun hujan dan air matamu
Waktu ayah menghambakan hayat
Menyuah seluruh nafasmu ke bendang
Antara tergesa-gesa dan mengah
Dalam cahaya senja
Ayah,
Anak-anakmu yang sudah dewasa ini
Sesal dan terharu
Bagai kehilangan kuasa lidah
Sekalipun untuk mahu memohon maaf
Atau...
Berbicara tentang cinta dan kasih sayangmu
Yang waktu kecil kami dahulu
Selalu juga gagal...
...Gagal kami temui dalam setiap dakapan
...Gagal kami hayati dalam setiap bilah rotanmu
...Gagal kami dengar dalam setiap doamu
Mengharapkan naluri ayah
bertemu bisik hati kami
Betapa kami...
tidak mampu pun suarakan
saat kami menyusun jari di pangkuan mu
dalam tangisan
Ayah,
Terima kasih kerana airmata mu
Tidak pernah gagal prihatin untuk kami
Terima kasih kerana ingatanmu di hujung rotan
Tidak pernah gagal mengasihani kami
Terima kasih kasih sayangmu yang takjub
Tidak pernah gagal mengingatkan kami dalam hati mu
Terima kasih atas segala susah payah
Tidak pernah gagal memanjatkan doa
Jejak sepatuku masih ada debu meminggir
Diasak embun desa termanggu di halaman
Seratus langkahku menghampiri anak tangga usang
Rumah papan atap rumbia menyentak perantau
Sepi di beranda
Kuatur langkahku sebak
Syahdu dan gementar
Ada tangisan di wajah
Menyentuh kenangan di gerbang pintu
Ayah selalu berkisah
Kuakan pintu itu ada nasihat
Masih basah keringat
Memantul warna senja kepulanganmu
Tanpa sungutan
Cepat benar masa berlalu
Waktu ayah menyambutku pulang
Usiamu diterjah putih kelabu
Ada perit getir di wajahmu
Kedut yang membungkus wajahmu
Mengasak kudrat ke telapak kesat tanganmu
Sering dahulu menghantar kami ke sekolah
Menghantar seribu luka di tumitmu
Sepohon pokok rendang tua
Ayah duduk memerhatikanku yang sudah dewasa
Membawaku ke sisi dan bercerita lagi kepadaku
Tentang kerinduan yang pernah ada dalam rumah
Tentang kasihan ibu kepada kami
Kata ayah "ibumu selalu sabar
Memahat senyuman pada dedaun padi
Yang menjadi alas kehidupan"
Ayah,
Seperti ibu yang selalu menangis gementar
Memanjat harapan ke hadrat-Nya
Anak-anakmu juga tidak dapat membezakan
Di antara turun hujan dan air matamu
Waktu ayah menghambakan hayat
Menyuah seluruh nafasmu ke bendang
Antara tergesa-gesa dan mengah
Dalam cahaya senja
Ayah,
Anak-anakmu yang sudah dewasa ini
Sesal dan terharu
Bagai kehilangan kuasa lidah
Sekalipun untuk mahu memohon maaf
Atau...
Berbicara tentang cinta dan kasih sayangmu
Yang waktu kecil kami dahulu
Selalu juga gagal...
...Gagal kami temui dalam setiap dakapan
...Gagal kami hayati dalam setiap bilah rotanmu
...Gagal kami dengar dalam setiap doamu
Mengharapkan naluri ayah
bertemu bisik hati kami
Betapa kami...
tidak mampu pun suarakan
saat kami menyusun jari di pangkuan mu
dalam tangisan
Ayah,
Terima kasih kerana airmata mu
Tidak pernah gagal prihatin untuk kami
Terima kasih kerana ingatanmu di hujung rotan
Tidak pernah gagal mengasihani kami
Terima kasih kasih sayangmu yang takjub
Tidak pernah gagal mengingatkan kami dalam hati mu
Terima kasih atas segala susah payah
Tidak pernah gagal memanjatkan doa
Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa sayangnya aku pada mak&ayah...
Bergenang airmata tiap kali kenangkan pengorbanan mereka...
Ya Allah, berikanlah aku peluang untuk membahagiakan mereka...
::mak ayah I LOVE U::

No comments:
Post a Comment